Masuk jurusan perhotelan biasanya menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa. Berbeda dengan kuliah yang sebagian besar dilakukan di kelas, mahasiswa perhotelan juga akan banyak melakukan praktik untuk mengenal situasi kerja di industri hospitality.
Laboratorium kampus menjadi salah satu tempat pertama mahasiswa belajar praktik. Di sana mahasiswa bisa belajar berbagai hal, mulai dari cara melayani tamu, membuat reservasi, menyiapkan kamar, table setup, hingga memahami prosedur kerja di hotel.
Bagi mahasiswa baru, melakukan kesalahan saat praktik sebenarnya adalah hal yang wajar. Namanya juga belajar.
Namun, ada beberapa kesalahan yang sebaiknya tidak menjadi kebiasaan karena dapat terbawa ketika mahasiswa mulai mengikuti praktik kerja lapangan (PKL), internship, atau masuk ke dunia kerja hotel.
Berikut lima kesalahan yang sering dilakukan mahasiswa baru perhotelan saat praktik di laboratorium kampus.
Kesalahan pertama adalah menganggap praktik di laboratorium hanya sebagai tugas yang harus diselesaikan agar mendapatkan nilai.
Misalnya, mahasiswa hanya fokus pada:
"Yang penting tugasnya selesai."
Padahal, praktik di laboratorium sebenarnya merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan kerja sebelum masuk ke industri.
Ketika melakukan praktik Front Office, misalnya, mahasiswa bukan hanya belajar bagaimana melakukan check-in. Mereka juga sedang belajar:
Begitu juga ketika praktik Housekeeping. Mahasiswa tidak hanya belajar membersihkan kamar, tetapi juga belajar mengenai standar kebersihan, ketelitian, efisiensi waktu, dan cara bekerja secara sistematis.
Anggap laboratorium kampus sebagai tempat latihan sebelum benar-benar bekerja di hotel.
Jangan hanya bertanya:
"Nilai saya berapa?"
Tetapi biasakan bertanya:
"Kalau kondisi seperti ini terjadi di hotel, saya harus melakukan apa?"
Pola pikir seperti ini akan membuat pengalaman praktik menjadi jauh lebih bermanfaat.
Di industri hospitality, penampilan merupakan salah satu bagian dari profesionalisme.
Namun, mahasiswa baru terkadang menganggap grooming hanya sebagai formalitas ketika ada praktik.
Contohnya:
Padahal, ketika bekerja di hotel, staf akan berhadapan langsung dengan tamu.
Penampilan bukan berarti harus selalu mahal atau mengikuti tren. Yang lebih penting adalah bersih, rapi, sesuai standar, dan terlihat profesional.
Mahasiswa sebaiknya mulai membiasakan diri mengikuti standar grooming sejak praktik di kampus.
Kebiasaan yang dibangun sejak awal akan lebih mudah terbawa ketika memasuki dunia kerja.
Jika sejak kampus sudah terbiasa datang dengan seragam rapi, rambut tertata, sepatu bersih, dan grooming sesuai standar, mahasiswa tidak perlu beradaptasi terlalu banyak ketika mengikuti internship.
Kesalahan berikutnya adalah terlalu takut berbicara.
Mahasiswa baru terkadang merasa takut salah ketika harus melakukan role play sebagai Front Office, waiter, atau posisi lainnya.
Akhirnya mereka berbicara terlalu pelan, ragu-ragu, atau hanya menghafalkan script.
Padahal, komunikasi merupakan salah satu kemampuan utama dalam hospitality.
Mahasiswa tidak harus langsung berbicara seperti hotelier berpengalaman.
Yang penting adalah belajar untuk:
Kesalahan saat praktik justru merupakan kesempatan untuk belajar.
Menghafalkan kalimat memang dapat membantu mahasiswa yang baru belajar.
Namun, jangan sampai mahasiswa hanya bisa berbicara ketika kalimatnya persis seperti yang ada di modul.
Di dunia kerja, situasi tamu tidak selalu sama dengan contoh di buku.
Misalnya, tamu tiba-tiba bertanya:
"Kalau saya mau early check-in, bisa tidak?"
Padahal script yang dihafalkan hanya berisi prosedur check-in normal.
Di sinilah kemampuan memahami situasi menjadi lebih penting daripada sekadar menghafal kalimat.
Mahasiswa baru terkadang takut bertanya karena khawatir dianggap tidak pintar.
Akhirnya mereka memilih diam dan mencoba menebak sendiri.
Masalahnya, jika prosedur yang dilakukan salah, kesalahan tersebut justru dapat semakin besar.
Dalam praktik, bertanya ketika belum memahami sesuatu justru merupakan kebiasaan yang baik.
Misalnya:
"Kak, untuk proses ini setelah input data langkah berikutnya apa?"
atau:
"Pak/Bu, kalau kondisi tamunya seperti ini, prosedurnya bagaimana?"
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa mahasiswa ingin memahami proses dengan benar.
Bertanya bukan berarti setiap langkah harus selalu ditanyakan.
Sebelum bertanya, coba:
Dengan cara ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan jawaban, tetapi juga belajar memecahkan masalah.
Ini merupakan salah satu kesalahan yang cukup fatal.
Mahasiswa terkadang merasa bahwa SOP hanya teori yang harus dihafalkan untuk ujian.
Padahal, SOP merupakan dasar dari banyak aktivitas operasional hotel.
Contohnya dalam Front Office:
Dalam Housekeeping:
Dalam F&B:
Mahasiswa tidak harus menghafalkan semua SOP dalam satu hari.
Yang penting adalah memahami kenapa prosedur tersebut dibuat dan apa tujuannya.
Sebagian mahasiswa mungkin merasa SOP membuat pekerjaan menjadi terlalu kaku.
Padahal, SOP membantu memastikan pekerjaan dilakukan dengan standar yang konsisten.
Misalnya, dua waiter melayani tamu yang berbeda.
Jika masing-masing memiliki cara sendiri tanpa mengikuti standar, kualitas pelayanan bisa berbeda jauh.
Dengan adanya SOP, hotel memiliki standar dasar yang harus diikuti.
Setelah memahami standar tersebut, kemampuan komunikasi dan pelayanan dapat dikembangkan sesuai situasi.
Selain lima kesalahan utama di atas, ada beberapa kebiasaan kecil yang juga perlu diperhatikan mahasiswa baru.
Di industri hotel, ketepatan waktu sangat penting karena operasional berjalan berdasarkan shift.
Kebiasaan datang terlambat saat praktik sebaiknya mulai diperbaiki sejak kuliah.
Sebelum praktik, biasakan mengecek perlengkapan yang harus dibawa.
Jangan menunggu sampai instruktur bertanya:
"Peralatannya mana?"
Menggunakan HP ketika tidak diperlukan dapat membuat mahasiswa kehilangan instruksi atau terlihat tidak profesional.
Biasakan fokus selama praktik berlangsung.
Dalam operasional hotel, informasi harus diteruskan kepada orang atau shift berikutnya.
Mahasiswa juga perlu belajar membiasakan diri menyampaikan informasi yang belum selesai dikerjakan.
Ketika dosen atau instruktur mengoreksi kesalahan, jangan langsung menganggapnya sebagai kritikan pribadi.
Anggap koreksi sebagai bagian dari proses belajar.
Laboratorium kampus memang bukan hotel sungguhan.
Tidak ada tamu yang benar-benar menginap dan tidak ada tekanan operasional seperti di hotel yang sedang ramai.
Justru karena itulah mahasiswa memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya.
Misalnya ketika salah melakukan proses check-in, mahasiswa dapat mengulang.
Ketika salah melakukan table setup, dapat diperbaiki.
Ketika salah berbicara dengan tamu saat role play, instruktur dapat memberikan feedback.
Kesempatan seperti ini sangat berharga sebelum mahasiswa menghadapi tamu sungguhan.
Dunia perhotelan saat ini tidak hanya mengandalkan kemampuan pelayanan manual.
Teknologi sudah menjadi bagian dari operasional hotel.
Mahasiswa perhotelan juga sebaiknya mulai mengenal sistem seperti:
Contohnya, ketika melakukan praktik Front Office, mahasiswa tidak hanya perlu memahami teori reservasi tetapi juga memahami bagaimana data reservasi dikelola dalam sistem.
Salah satu contoh sistem PMS yang dapat dipelajari adalah HOTELMU.ID, yang menyediakan berbagai modul untuk mendukung operasional hotel seperti Front Office, Housekeeping, POS-Resto, dan Back Office.
Semakin familiar mahasiswa dengan teknologi yang digunakan di industri, semakin mudah mereka beradaptasi ketika memasuki dunia kerja.
Tidak perlu menunggu sampai semester akhir untuk mulai mempersiapkan diri.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan sejak semester awal antara lain:
Anggap jadwal praktik seperti jadwal kerja.
Biasakan tampil rapi dan sesuai standar hospitality.
Berlatih berbicara dengan teman, dosen, maupun saat role play.
Jangan hanya menghafal. Pahami alasan di balik setiap prosedur.
Jika tidak tahu, tanyakan daripada melakukan kesalahan karena menebak.
Gunakan kritik sebagai bahan untuk berkembang.
Mulai mengenal PMS dan sistem hotel lainnya.
Kemampuan teknis dapat dipelajari, tetapi attitude dan kebiasaan kerja perlu dibangun secara konsisten.
Menjadi mahasiswa perhotelan bukan hanya tentang mendapatkan nilai praktik yang bagus. Masa kuliah juga merupakan kesempatan untuk membangun skill, attitude, dan kebiasaan kerja sebelum masuk ke industri hospitality.
Lima kesalahan yang sebaiknya dihindari mahasiswa baru adalah:
Melakukan kesalahan saat belajar adalah hal yang normal. Yang penting adalah mau menerima koreksi, memperbaiki kesalahan, dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Jika sejak di laboratorium kampus mahasiswa sudah terbiasa disiplin, rapi, komunikatif, memahami SOP, mampu bekerja sama, dan mau belajar teknologi hotel, proses beradaptasi ketika masuk ke dunia kerja akan menjadi jauh lebih mudah.
Karena pada akhirnya, hotel tidak hanya membutuhkan orang yang bisa melakukan pekerjaan, tetapi juga orang yang memiliki attitude, kemampuan komunikasi, dan kesiapan untuk belajar.